pemanfaatan mengkudu (morinda citrifolia) sebagai pembersih noda pakaian
PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU (Morinda
citrifolia) SEBAGAI PEMBERSIH NODA PAKAIAN
KARYA TULIS ILMIAH
diajukan untuk memenuhi tugas
penulisan karya tulis ilmiah di tingkat madrasah aliyah
disusun oleh:
Kelas XI MIA 1 Kelompok 2
Ardiansyah
Fendra Rahman Ihsanudin
Mutiara Rizqi Adhatul J
Nabilah Auliya Zhafirah
Putri Amelia Safaat
Rifdah Fatin Hasanah
Siti Inayatin
Sukma Vizry Maharani
Syifauddihni

KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI
CIREBON 1
Jalan Kantor Pos No. 36 Weru, Kab. Cirebon 45154 Telepon
(0231)321488
Website: http//www.mancirebon1.sch.co.id
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Penelitian Berjudul
PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia ) SEBAGAI PEMBERSIH NODA PAKAIAN
telah
disetujui dan disahkan sebagai karya tulis ilmiah pada madrasah tingkat aliyah.
Cirebon,
07 Februari 2017
Pembimbing 1,
|
Pembimbing 2,
|
SUSI SUCIATI,S.Pd.
|
YAYAH,S.Pd.
|
NIP 19730718
199903 2 003
|
NIP 19630414
199403 2 001
|
Mengetahui,
Kepala
MAN 1 CIREBON
|
Drs.
H.KUMAEDI, M.Pd
|
NIP
19680116 199403 1 004
|
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirrabbil ‘alaamiin
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami
sehingga kami diberikan kemudahan dalam menyusun makalah ini. Shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada pemberi risalah mulia yakni Nabi Muhammad
SAW. Dialah yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-Qur’an dan sunnah
untuk keselamatan umat di dunia.
Laporan penelitian ilmiah ini disusun untuk
memenuhi tugas dari sekolah dalam usaha meningkatkan kualitas siswa MAN 1
Cirebon. Kami juga berharap semoga penelitian yang sederhana ini dapat
memberikan mafaat bagi para pembaca dan mudah-mudahan dapat memberi motivasi
terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di MAN CIREBON 1.
Selanjutnya
kami menyadari bahwa terselesaikannya penulisan makalah ini tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak yang tentunya sangat berperan dalam penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih dan
rasa hormat yang tak terhingga kepada:
1. Bapak Drs. H. Kumaedi, M.Pd. Selaku
kepala MAN 1 Cirebon,
2. Ibu
Susi Suciati, S. Pd, selaku wali kelas
XI MIA 1 dan pembimbing
3. Ibu
Yayah, S.Pd, yang telah membantu dan membimbing kami dalam menyelesaikan
makalah ini,
4. Bapak/Ibu Guru dan Staf TU MAN 1
Cirebon,
5. Rekan-rekan kelas XI MIA 1,
6. Serta
semua pihak yang telah membantu dalam penilitian ini yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
Dalam
penyusunan makalah ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi
penyusunan laporan penelitian ilmiah ini tentu saja masih banyak terdapat
kekurangan. Karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan dari kelompok kami serta
waktu yang terbatas. Sehingga kami sadar bahwa penyusunan laporan ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak dan kami sangat berharap kritik dan saran untuk perbaikan dalam
penulisan makalah ini.
Cirebon, 7 Februari 2017
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia
selain bahan pangan dan papan (rumah tinggal), dan terbuat dari bahan tekstil
dan serat yang digunakan sebagai penutup tubuh. Pakaian juga dibutuhkan untuk
melindungi dan mempercantik diri. Aktifitas masyarakat yang semakin tinggi
membuat pakaian yang dikenakan terkotori oleh berbagai jenis noda yang sulit
dihilangkan, seperti noda lumpur, getah, coklat, saos, dan noda lainnya, hal
itu membuat pemilik pakaian terkadang merasa jengkel, apalagi jika noda
membandel tersebut mengenai pakaian favorit atau pakaian yang berwarna putih.
Pemilik pakaian melakukan berbagai upaya untuk membersihkannya seperti mencuci
pakaian berkali-kali, merendam pakaian dengan waktu yang cukup lama, merendam
dengan air panas, dan hal yang paling sering dilakukan adalah mencuci noda
tersebut dengan detergen.
Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang
digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan – bahan turunan
minyak bumi. Pada umumnya detergen mengandung surfaktan yang berfungsi melepas
kotoran pada pakaian, builder yang berfungsi meningkatkan efisiensi mencuci
dari surfaktan, filler yang berfungsi menambah kuantitas busa dan adiktif yang
berfungsi komersialisasi produk.
Penggunaan detergen dan bahan pembersih noda yang
digunakan secara terus menerus mengakibatkan menipisnya serat pakaian, dan
menguningnya pakaian yang berwarna putih. Selain itu dampak dari penggunaan
detergen dapat mengakibatkan kerusakan pada
ekosistem alam sekitar, untuk menghilangkan dampak tersebut, kita dapat
menggunakan bahan organik seperti buah mengkudu.
Mengkudu (Morinda
citrifolia) biasa disebut sebagai “ Queen of Morinda ” karena memiliki banyak kandungan
zat yang bermanfaat, salah satunya adalah tingginya kadar asam dimanfaatkan
sebagai pembersih noda pada pakaian.
Hal ini lah yang melatar belakangi kami untuk
mengambil judul penelitian “Pemanfaatan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Sebagai Pembersih Noda Pada Pakaian”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, kami merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1.
Apakah buah mengkudu dapat dimanfaatkan
sebagai pembersih
noda pada pakaian?
2. Jenis
noda apa sajakah yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu?
3.
Apakah mengkudu memiliki kelebihan daya
cuci dibandingkan detergen?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk
mengetahui manfaat buah mengkudu sebagai pembersih noda pada pakaian.
2. Untuk
mengetahui noda apa saja yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu.
3. Untuk
mengetehui kelebihan daya cuci mengkudu dibandingkan detergen.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat
dari penelitian ini diharapkan dapat dirasakan dan mempunyai kontribusi positif
untuk semua pihak antara lain sebagai berikut:
1.
Peneliti
Hasil
penelitian ini diharapkan mampu menambah rasa keingin tahuan bagi peneliti
dalam pemanfaatan buah mengkudu (Morinda
citrifolia).
2.
Madrasah
Penelitian
ini dapat dijadikan sebagai salah satu koleksi karya tulis ilmiah bagi madrasah
dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau contoh karya tulis pemanfaatan buah
mengkudu (Morinda citrifolia).
3.
Masyarakat
Hasil
penelitian ini diharapkan membantu masyarakat dalam aktivitas sehari-hari,
terutama dalam meminimalisir penggunaan produk berbahan kimia dan mampu memanfaatkan
buah Mengkudu (Morinda citrifolia).
4.
Pemerintah
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengupayakan kehidupan
masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan mampu memanfaatkan berbagai
bahan organik yang ada di lingkungan sekitar.
1.5 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
bertempatan di kelas XI MIA 1 MAN 1 Cirebon, Jalan
Kantor Pos No.36 Weru, Kab. Cirebon 45154, di rumah Ardiansyah, Jalan
Fatahillah No. 5 Weru, Kab. Cirebon, dan di rumah Fendra Rahman Ihsanudin,
Jalan Yudhistira 3 perum Taman Tukmudal Indah No. 88-08 Tukmudal, Kab. Cirebon.
Tabel 1.1 Jadwal Kegiatan Penelitian.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
2.1 Mengkudu (Morinda citrifolia)
Mengkudu (Morinda citrofilia) merupakan tanaman yang berasal dari Asia
Tenggara dan tergolong dalam famili rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini
adalah Noni (Bahasa Hawai), Nono (Bahasa Tahiti), Nonu (Bahasa Tonga),
Ungciokan (Bahasa Mianmar), dan Aceh (Bahasa Hindi). Di Indonesia buah mengkudu
memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah diantaranya Keumeudee (Aceh),
Pace dan Mengkudu (Jawa), Cangkudu (Sunda), Khoduk (Madura), dan Tibah (Bali).
Pada awalnya tanaman mengkudu terpusat di Polinesia, India dan China yang
kemudian menyebar ke Malaysia, Australia, Selandia Baru, Karibia, Kanada, hingga sampai ke Indonesia, (Hariana,
2008)
Menurut Heyne beberapa spesies mengkudu
yang ada di indonesia. Spesies itu adalah M.citrifolia,
M.eliptica, M.bracteaca,
M.speciosa, M. Linctoria, dan M.oleifera. Dari spesies-spesies tersebut
hanya ada dua yang sudah umum dimanfaatkan, yaitu Morinda citrifolia, yang dikenal sebagai mengkudu bogor dan spesies
ini yang banyak dimanfaatkan untuk obat. Dan Morinda bracteaca, spesies ini banyak dibudidayakan di maluku
sebagai penghasil zat warna untuk bahan pencelup benang, kain, kain batik, dan
kerajinan anyaman dari daun pandan. (Kandi,2009)
Kingdom
|
Plantae (tumbuhan)
|
Sub-Kingdom
|
Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
|
Super Divisio
|
Spermatophyta (menghasilkan biji)
|
Divisio
|
Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
|
Classis
|
Magnoliopsida
(berkeping dua / dikotil)
|
Sub-Classis
|
Sympatalae
|
Ordo
|
Rubiales
|
Famili
|
Rubiaceae
|
Genus
|
Morinda
|
Spesies
|
Morinda citrifolia
|
Tabel 2.1 Klasifikasi Buah
Mengkudu (Morinda citrifolia)
2.2 Morfologi buah mengkudu
a. Pohon
Ukuran tanaman tidak terlalu besar, dengan ketinggian 3-8 meter. Memiliki batang bengkok dan berdahan kaku, memiliki akar tunggang yang tertancap di dalam tanah. Kulit batang berwarna kecoklatan, beralur dangkal, tidak berbulu, anak cabangnya segi empat.
Ukuran tanaman tidak terlalu besar, dengan ketinggian 3-8 meter. Memiliki batang bengkok dan berdahan kaku, memiliki akar tunggang yang tertancap di dalam tanah. Kulit batang berwarna kecoklatan, beralur dangkal, tidak berbulu, anak cabangnya segi empat.
b. Daun
Daun tanaman berukuran besar dan tunggal. Daun bertangkai, bulat telur hingga berbentuk elips, kebanyakan daun runcing, berwarna hijau mengkilap 5-17 cm. Daun mengkudu memiliki banyak variasi seperti bentuk bulat, bertepi rata, hijau kekuningan, gundul dengan panjang 1,5 cm.
Daun tanaman berukuran besar dan tunggal. Daun bertangkai, bulat telur hingga berbentuk elips, kebanyakan daun runcing, berwarna hijau mengkilap 5-17 cm. Daun mengkudu memiliki banyak variasi seperti bentuk bulat, bertepi rata, hijau kekuningan, gundul dengan panjang 1,5 cm.
c. Bunga
Bunga tanaman mengkudu berbentuk bongkol dengan tangkai 1-4 cm, rapat, berbunga banyak, tumbuh di dekat batang. Bunga harum dan wangi, serta memiliki mahkota berbentuk tabung, terompet, putih dalam lehernya berambut wol, panjang tabung mencapai 1,5 cm. Benang sari berjumlah 4, tumbuh menjadi satu dengan mahkota sehingga berukuran besar.
Bunga tanaman mengkudu berbentuk bongkol dengan tangkai 1-4 cm, rapat, berbunga banyak, tumbuh di dekat batang. Bunga harum dan wangi, serta memiliki mahkota berbentuk tabung, terompet, putih dalam lehernya berambut wol, panjang tabung mencapai 1,5 cm. Benang sari berjumlah 4, tumbuh menjadi satu dengan mahkota sehingga berukuran besar.
d. Buah
Buah tanaman mengkudu bulat atau longjong seperti telur ayam. Permukaan buah terbagi sel polgonal (bersegi banyak) yang berbintik bintik atau berkutil. Buah awal berwarna hijau dan menjadi kekuning-kuningan ketika matang dan setelah matang buah akan menjadi lunak. Sehingga berjatuhan di bawah pohon.
Buah tanaman mengkudu bulat atau longjong seperti telur ayam. Permukaan buah terbagi sel polgonal (bersegi banyak) yang berbintik bintik atau berkutil. Buah awal berwarna hijau dan menjadi kekuning-kuningan ketika matang dan setelah matang buah akan menjadi lunak. Sehingga berjatuhan di bawah pohon.
e. Biji
Biji buah mengkudu berwarna hitam, memiliki albumen yang keras dan ruang udara yang tampak jelas (berpori-pori). Bijinya memiliki daya tumbuh yang baik walaupun sudah disimpan 6 bulan. Perkecambahan 3-9 setelah di semaikan.
Biji buah mengkudu berwarna hitam, memiliki albumen yang keras dan ruang udara yang tampak jelas (berpori-pori). Bijinya memiliki daya tumbuh yang baik walaupun sudah disimpan 6 bulan. Perkecambahan 3-9 setelah di semaikan.
2.3 Kandungan buah mengkudu (Morinda citrifolia)
Beberapa peneliti ahli
biokimia menyatakan bahwa kandungan yang ada di buah mengkudu antara lain :
a.
Protein berfungsi meningkatkan kesehatan jantung, kulit, otot,
rambut, dan penghasil tenaga.
b.
Vitamin berfungsi menstabilkan metabolisme pada tubuh.
c.
Mineral berfungsi pembentukan struktur tubuh.
d.
Proxeronine berfungsi
membentuk xeronine.
e.
Xeronine
berfungsi mengatur bentuk dan rigiditas protein spesifik yang terdapat dalam
sel.
f.
Alizarin sebagai
zat pelawan bakteri.
g.
Plant sterois berfungsi sebagai membantu
fungsi monakolin k yang dapat digunakan sebagai penurun kolesterol.
h.
Lycine berfungsi
sebagai membantu mengkonversi asam lemak menjadi energi, dan menurunkan kadar
kolesterol jahat.
i.
Sodium berfungsi
sebagai pengatur jumlah air dalam tubuh, juga memainkan peran pada bagian
impuls saraf dan konsentrasi otot.
j.
Caprilyc acid
(asam askorbat) berfungsi sebagai perawatan, kontrol, perbaikan dan pencegahan
epilepsi, hipoalbuaminemia, gangguan pencernaan dan penyerapan lemak.
k.
Arginine
berfungsi sebagai membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengatur hormon
dan gula darah, serta meningkatkan kesuburan pada pria.
l.
Phenylalanine
berfungsi sebagai membantu tubuh memproduksi DNA serta molekul otak seperti
dopamin, norepnefrin, dan epinefrin.
m. Magnesium berfungsi untuk menjaga otot dan saraf
agar berfungsi normal, dan menjaga irama detak jantung.
n. Terpenoid memiliki manfaat untuk mengobati diabetes,
gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan kulit, dan malaria.
o. Scolopetin
berfungsi untuk menormalkan saluran pembuluh darah, pembunuh bakteri dan jamur,
anti peradangan, dan anti alergi.
p. Saponin berfungsi sebagai anti mikroba dan menimbulkan
busa bila dikocok dengan air.

Gambar
2.1 Gambar Buah Mengkudu ( Morinda citrifolia )
2.4 Noda
Noda adalah satu noktah yang menyebabkan kotor pada
pakaian dan berasal dari berbagai sumber, misalnya getah, debu, keringat,
tinta, parfum, lumpur dan lain-lain. Setiap sumber kotoran memiliki perbedaan daya
lekat dari setiap pengotor. Daya lekat ini akan mempengaruhi proses pembersihan
sesuai dengan karakternya masing-masing. Jenis kotoran sangat unik dan
memerlukan komposisi dan sifat kimia yang berbeda untuk mendapatkan daya cuci
yang terbaik.
2.5 Zat
Pembersih Noda
Zat-zat pembersih noda yang biasa digunakan adalah :
a. Detergen
Detergen adalah campuran berbagai
bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan
turunan minyak
bumi. Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai
keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak
terpengaruh oleh kesadahan air.
Adapun
bahan pembuat detergen adalah sebagai berikut :
1. Bahan penurun tegangan permukaan
Bahan penurun tegangan
permukaan yang digunakan untuk memudahkan mengikat kotoran dan menimbulkan
busa, antara lain sebagai berikut :
a.
Alkil Benzen Sulfonat (ABS) + NaOH
menghasilkan Natrium Alkil Benzen Sufonat (detergen keras).

Gambar 2.2 gambar reaksi kimia detergen keras
B.
Lauril Asam Sulfat (LAS) + NaOH menghasilkan Natrium Lauril Sulfat (detergen
lunak).

Gambar 2.3 gambar reaksi kimia detergen lunak
2. Bahan penunjang
Bahan penunjang pada detergen
digunakan STPP (Sodium Tri Poli Phosphat / Natrium Tri Poli Phosphat) berfungsi
menunjang kerja bahan penurun tegangan permukaan.
3.
Bahan pengisi
Bahan ini berfungsi
sebagai bahan pengisi dari keseluruhan bahan baku. Pemberian bahan pengisi ini
dimaksudkan untuk memperbesar atau memperbanyak volume. Keberadaan bahan ini
dalam deterjen semata-mata dilihat dari aspek ekonomis. Bahan pengisi deterjen
disini menggunakan sodium sulfat (Na2SO4). Bahan lain
sebagai pengisi deterjen dapat mengguanakan tetra sodium pyroposphate dan
sodium sitrat. Bahan ini berbentuk serbuk, berwarna putih dan mudah larut dalam
air.
4. Bahan
pengikat
Sebagai bahan pengikat digunakan air, yaitu untuk
mencampurkan semua bahan (media).
5.
Bahan tambahan
Sebagai bahan tambahan digunakan CMC (Carboxy
Metyl Cellulose), agar kotoran yang terikat detergen tidak melekat kembali ke
bahan yang dicuci.
6.
Bahan pewangi dan pewarna
Bahan pewangi dan pewarna digunakan agar detergen mempunyai
warna dan aroma yang spesifik untuk membedakan dengan merk lain dan sesuai
dengan warna dan aroma yang diminati konsumen. Semua bahan dicampur dan dapat dibentuk pasta (krim) atau disemprotkan
lewat menara sehingga menghasilkan butiran-butiran.
b. Sabun
Sabun adalah bahan yang
digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu
asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun
merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium
dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat
dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat
dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap).

Gambar 2.4 gambar reaksi kimia
pembuatan sabun keras
Gambar 2.5 gambar reaksi kimia pembuatan sabun lunak
Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses
saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan
memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak
akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara
trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi
asam lemak bebas dengan alkali (Qisti, 2009).
Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak
tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COONa . Aksi
pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan
menurunkan tegangan permukaan dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan
mengingat kedua sifat dari anion sabun (Achmad, 2004).
Sabun memiliki komposisi sebagai berikut :
1.
Surfaktan
Surfaktan
adalah molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus
non polar yang suka minyak (lipofilik) sehingga dapat mempersatukan campuran
yang terdiri dari minyak dan air yang bekerja menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan
merupakan bahan terpenting dari sabun. Lemak dan minyak yang dipakai dalam
sabun berasal dari minyak kelapa (asam lemak C12), minyak zaitun
(asam lemak C16-C18), atau lemak babi. Penggunaan bahan
berbeda menghasilkan sabun yang berbeda, baik secara fisik maupun kimia. Ada
sabun yang cepat berbusa tetapi terasa airnya kasar dan tidak stabil, ada yang
lambat berbusa tetapi lengket dan stabil, (Wasitaatmadja, 1997).
2.
Pelumas
Untuk menghindari rasa kering pada kulit
diperlukan bahan yang tidak saja meminyaki kulit tetapi juga berfungsi untuk
membentuk sabun yang lunak, misal: asam lemak bebas, fatty alcohol, gliserol,
lanolin, parafin lunak, cocoa butter, dan minyak almond, bahan sintetik ester
asam sulfosuksinat, asam lemak isotionat, asam lemak etanolamid, polimer JR,
dan carbon resin (polimer akrilat). (Wasitaatmadja, 1997).
3.
Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa atau zat yang dapat
menghambat, menunda, mencegah, atau memperlambat reaksi oksidasi meskipun dalam
konsentrasi yang kecil. Untuk menghindari kerusakan lemak terutama bau tengik,
dibutuhkan bahan penghambat oksidasi, misalnya stearil hidrazid dan
butilhydroxy toluene (0,02%-0,1%). (Wasitaatmadja, 1997).
4.
Pewarna
Pewarna
kebanyakan sabun toilet berwarna cokelat, hijau biru, putih, atau krem. Pewarna
sabun dibolehkan sepanjang memenuhi syarat dan peraturan yang ada, pigmen yang
digunakan biasanya stabil dan konsentrasinya kecil sekali (0,01- 0,5%).
Titanium dioksida 0,01%. (Wasitaatmadja, 1997).
5.
Parfum
Isi
sabun tidak lengkap bila tidak ditambahkan parfum sebagai pewangi. Biasanya
pewangi harus berada dalam pH dan warna yang berbeda. Setiap pabrik memilih bau
dan warna sabun bergantung pada permintaan pasar atau masyarakat pemakainya.
Biasanya dibutuhkan wangi parfum yang tidak sama untuk membedakan produk
masing-masing. (Wasitaatmadja, 1997).
6.
Pengontrol pH
Penambahan
asam lemak yang lemah, dapat menurunkan pH sabun, misalnya asam sitrat.
(Wasitaatmadja, 1997).
7.
Bahan tambahan khusus
Berbagai bahan tambahan
untuk memenuhi kebutuhan pasar, produsen, maupun segi ekonomi dapat dimasukkan
ke dalam formula sabun. (Wasitaatmadja, 1997).
2.6 Prinsip kerja zat pembersih noda dalam
membersihkan noda
Daya
cuci detergen dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air
yang digunakan. Detergen memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran,
baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung
dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air,
akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul
surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan mengendorkan
kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel
ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan.
Fungsi
surfaktan yang lain adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga
kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari
kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Surfaktan yang biasa
digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat,
alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain.
Linear Alkilbenzene Sulfonat (LAS), etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan
dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki daya bersih
yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan untuk pencuci
kain dan pencuci piring).
Surfaktan
jenis yang lain adalah Etoksilat, Etoksilat tidak berubah menjadi partikel yang
bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air
yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua
jenis kotoran. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel positif
ketika terlarut dalam air.Surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut
(softener). Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif,
netral atau negatif bergantung pH air yang digunakan. Kedua surfaktan ini cukup
kestabilan dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk
pencuci alat - alat rumah tangga.
Setelah
surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang
meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah
dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat
berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan
kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik
serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Zat
yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium
sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek
Penelitian
Objek yang diteliti
adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia)
yang dijadikan sebagai pembersih noda pada pakaian.
3.2 Jenis
Penelitian
Jenis penelitian yang
dilakukan adalah penelitian kualitatif., yaitu menguji keefektifan buah
mengkudu dalam membersihan noda pada pakaian. Kirk dan Miller (1986), mendefinisikan jenis kualitatif
sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental
bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasanya sendiri dan
berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam
peristilahanya.
3.3 Metode Eksperimen
Dalam penelitian ini
metode yang dilakukan adalah metode eksperimen. Dalam bahasa latin eksperimen diambil dari kata
eks-periri yang berarti menguji coba, metode penelitian eksperimen adalah suatu
cara untuk mencari hubungan sebab
akibat. (Arikunto,2006)
3.4 Prosedur
Penelitian
3.4.1 Tahap persiapan.
a. Tahap pertama yang kami lakukan adalah
menentukan judul yang akan kami jadikan
objek penelitian yakni, yang berjudul “Pemanfaatan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai Pembersih
Noda Pakaian“.
b. Tahap selanjutnya adalah penyusunan
proposal penelitian.
3.4.2 Tahap
pelaksanaan
Tahapan
yang kami lakukan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan alat dan bahan
Alat yang
digunakan dalam proses pembuatan pembersih noda dengan mengkudu (Morinda citrifolia) adalah sebagai
berikut :
a. Wadah
b.
Blender
c.
Saringan
Bahan yang
digunakan dalam proses pembuatan pembersih noda dengan mengkudu (Morinda citrifolia) adalah sebagai berikut :
a.
Mengkudu (Morinda citrifolia)
b.
Bahan pengental
c.
Bahan pewangi
2.
Proses pembuatan
Proses pembuatan pembersih noda dari
mengkudu (Morinda citrifolia) adalah
sebagai berikut :
a. Proses
pertama adalah siapkan mengkudu, lalu iris,
b. Setelah
itu masukan irisan mengkudu ke dalam
blender,
c. Saring,
d.
Berikan ekstrak pewangi,
e. Masak
dengan bahan pengental
f. Masukkan
kedalam wadah.
3.4.3 Uji coba
Uji
coba menghilangkan noda dengan cairan buah Mengkudu sebagai berikut :
a. Siapkan
cairan buah Mengkudu, Air, Ember, dan
Sikat cuci,
b. Oleskan
cairan pada noda,
c. Tuangkan
cairan kedalam ember yang berisi air,
d. Rendam
pakaian yang telah diolesi cairan mengkudu ke dalam ember,
e. Diamkan
beberapa menit,
f.
Cuci seperti biasa.
4.
Pengambilan data penelitian
5.
Analisis data
6. Pelaporan
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang kami lakukan adalah :
a.
Literatur
Literatur yang
digunakan bersumber dari buku dan internet.
b.
Eksperimen
Eksperimen
yang dilakukan adalah dengan cara melakukan percobaan terhadap buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai pembersih
noda pada pakaian. Noda yang diuji adalah noda minyak, lumpur,kunyit,oli,kecap,
dan saos pada kain katun dan kaos.
BAB
IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian
yang telah kami lakukan, diperoleh data sebagai berikut :
a.
Hasil uji nilai pH buah mengkudu (Morinda citrifolia)
Tabel 4.1
Hasil uji nilai pH
Jenis
Mengkudu
|
Alat uji
|
Nilai pH
|
|
Reagen pH-1 dan pH-2
|
Indikator universal
|
||
Mengkudu muda
|
![]() |
![]() |
4
|
Mengkudu matang
|
![]() |
![]() |
5
|
Mengkudu tua
|
![]() |
![]() |
6
|
b.
Hasil uji jenis noda yang dapat
dihilangkan oleh buah mengkudu (Morinda
citrifolia)
Tabel 4.2
Hasil pencucian terhadap beberapa jenis noda (kain bahan katun)
Jenis
noda
|
Setelah dicuci
|
|||
Mengkudu muda
|
Mengkudu matang
|
Mengkudu tua
|
Detergen
|
|
Kecap
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Kunyit
|
Sedikit pudar
|
Sedikit pudar
|
Sedikit pudar (Lebih bersih dibandingkan menggunakan
detergen)
|
Sedikit pudar
|
Lumpur
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Pudar
|
Minyak
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
(tetapi terasa licin)
|
Oli
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Terdapat noda (menyebar)
|
Saos
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tabel 4.3
Hasil pencucian terhadap beberapa jenis noda (jenis kain kaos)
Jenis
noda
|
Setelah dicuci
|
|||
Mengkudu muda
|
Mengkudu matang
|
Mengkudu tua
|
Detergen
|
|
Kecap
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Kunyit
|
Sedikit pudar
|
Sedikit pudar
|
Sedikit pudar (Lebih bersih dibandingkan detergen)
|
Sedikit pudar
|
Lumpur
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Pudar
|
Minyak
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Oli
|
Pudar
|
Pudar (Sama bersih dengan detergen)
|
Pudar (Lebih bersih dari detergen)
|
Pudar (Sama bersih dengan mengkudu matang)
|
Saos
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
Tidak terdapat noda
|
4.2 Pembahasan
Dari hasil percobaan daya cuci terhadap noda pada
kain, buah mengkudu (Morinda citrifolia) dapat
dijadikan sebagai pembersih noda pada pakaian. Hal ini karena buah mengkudu (Morinda citrifolia) mengandung saponin,
Saponin merupakan senyawa aktif yang kuat sebagai anti mikroba dan menimbulkan
busa bila dikocok dengan air, selain itu mengkudu mengandung caplyric acid
(asam askorbat) memiliki nilai pH 4 sampai 6. Semua jenis noda yang dapat dibersihkan oleh buah
mengkudu, hasilnya bahkan lebih bersih dibandingkan dengan hasil yang dicuci
dengan deergen.
Dari tabel 4.2 dan 4.3
diperoleh data bahwa Mengkudu (Morinda
citrifolia) mempunyai keefektifan di atas detergen dalam menghilangkan noda.
Mencuci pakaian dengan mengkudu dapat menghilangkan noda tanpa meninggalkan
residu pada serat kain, sehingga kain tidak mudah rusak dan warna pada pakaian lebih
cerah. Selain itu saat pencucian menggunakan mengkudu tidak menimbulkan rasa
panas di tangan, sedangkan saat pencucian dengan menggunakan detergen dapat menimbulkan
rasa panas di tangan.
BAB
V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
1.
Buah mengkudu (Morinda citrifolia) dapat dijadikan sebagai pembersih noda pada
pakaian.
2. Jenis–jenis
noda yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu adalah : noda lumpur, noda
deodorant, pakaian yang telah menguning dan noda – noda ringan yang biasa
terdapat pada pakaian.
3. Buah
mengkudu (Morinda citrifolia) lebih
unggul dari detergen, karena mengkudu mampu menghilangkan noda yang sukar
dihilangkan oleh detergen seperti noda lumpur, oli dan kunyit. Buah mengkudu tidak
menimbulkan panas di tangan saat mencuci, ramah lingkungan, dan tidak
meninggalkan residu pada serat kain.
5.2
Saran
1.
Masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan
sumber daya yang ada di sekitar.Masyarakat dapat menggunakan buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai pengganti
detergen yang alami, ekonomis, dan mudah didapatkan.
2.
Masyarakat sebaiknya tidak menganggap buah
mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai
limbah, namun dapat memanfaatkannya menjadi pembersih noda.
DAFTAR
PUSTAKA
Kandi.2009.Mengkudu
yang multiguna.Bandung : Jasa grafika Indonesia.
Wikipedia.
2017. detergen, (online), ( https://id.wikipedia.org/wiki/Deterjen ,
diakses pada 22 November 2016 )
Nur Armah,Fathullah. 2012. Penelitian eksperimen, ( online )
(http://fathullahna.blogspot.co.id/2012/10/penelitian-eksperimen.html , diakses pada 10 januari 2016 )
Rahman,Edwin. 2014 . Jenis
pegotor pada kain, ( onine )
( https://plus.google.com/106351430053776068124/posts/GZzCPVEfLAt , diakses pada 21 November 2016 )
Burhanudin,Afid.2013.
penelitian kuantitatif dan kualitatif, ( online )
( https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif/ diakses pada 10 januari 2016 )
Dahlan,Herdiansyah.2012. pengetian
literatur dan jenis jenis nya, ( online )
http://hendriansdiamond.blogspot.co.id/2012/02/pengertian-literatur-dan-jenis.html dikses pada 9 januari 2016 )






Gomawo yang udah liat blog saya
BalasHapusSemoga bermanfaat
Gomawo yang udah liat blog saya
BalasHapusSemoga bermanfaat
Mantab bro thx
BalasHapuskak itu bahan pengental nya apa ya ?
BalasHapus\
Pakai tepung maizena aja ka
HapusTpi sesuai kan jumlah nya
saya ingin bertanya...zat pengentalnya pake zat apa...beserta zat pewanginya memakai zat pewangi apa....dan berapa takaranya,berapa lama memasaknya....mohon jelaskan secara detail..
BalasHapusapakah bisa memakai garam sebagai zat pengental....dan zat pewanginya juga apkh bisa memakai pewangi pakain ( royale , downi ,dll ) atau bisa memakai parfum
BalasHapusmemakai parfum
Hapus