pemanfaatan mengkudu (morinda citrifolia) sebagai pembersih noda pakaian

PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI PEMBERSIH NODA PAKAIAN

KARYA TULIS ILMIAH
diajukan untuk memenuhi tugas penulisan karya tulis ilmiah di tingkat madrasah aliyah
disusun oleh:
Kelas XI MIA 1 Kelompok 2
Ardiansyah
Fendra Rahman Ihsanudin
Mutiara Rizqi Adhatul J
Nabilah Auliya Zhafirah
Putri Amelia Safaat
Rifdah Fatin Hasanah
Siti Inayatin
Sukma Vizry Maharani
Syifauddihni
Description: D:\images (1).jpg










KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI CIREBON 1
Jalan Kantor Pos No. 36 Weru, Kab. Cirebon 45154 Telepon (0231)321488
Website: http//www.mancirebon1.sch.co.id
2016


LEMBAR PENGESAHAN


Laporan Penelitian Berjudul
PEMANFAATAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia ) SEBAGAI PEMBERSIH NODA PAKAIAN
telah disetujui dan disahkan sebagai karya tulis ilmiah pada madrasah tingkat aliyah.
Cirebon, 07 Februari 2017
Pembimbing 1,
Pembimbing 2,




SUSI SUCIATI,S.Pd.




YAYAH,S.Pd.
NIP 19730718 199903 2 003
NIP 19630414 199403 2 001
Mengetahui,
Kepala MAN 1 CIREBON





Drs. H.KUMAEDI, M.Pd
NIP 19680116 199403 1 004







KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirrabbil ‘alaamiin
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami sehingga kami diberikan kemudahan dalam menyusun makalah ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada pemberi risalah mulia yakni Nabi Muhammad SAW. Dialah yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Laporan penelitian ilmiah ini disusun untuk memenuhi tugas dari sekolah dalam usaha meningkatkan kualitas siswa MAN 1 Cirebon. Kami juga berharap semoga penelitian yang sederhana ini dapat memberikan mafaat bagi para pembaca dan mudah-mudahan dapat memberi motivasi terhadap perkembangan dan  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di MAN CIREBON 1.
Selanjutnya kami menyadari bahwa terselesaikannya penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang tentunya sangat berperan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih dan rasa hormat yang tak terhingga kepada:
1.         Bapak Drs. H. Kumaedi, M.Pd. Selaku kepala MAN 1 Cirebon,
2.         Ibu Susi Suciati, S. Pd,  selaku wali kelas XI MIA 1 dan pembimbing
3.         Ibu Yayah, S.Pd, yang telah membantu dan membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini,
4.         Bapak/Ibu Guru dan Staf TU MAN 1 Cirebon,
5.         Rekan-rekan kelas XI MIA 1,
6.         Serta semua pihak yang telah membantu dalam penilitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi penyusunan laporan penelitian ilmiah ini tentu saja masih banyak terdapat kekurangan. Karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan dari kelompok kami serta waktu yang terbatas. Sehingga kami sadar bahwa penyusunan laporan ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak dan kami sangat berharap kritik dan saran untuk perbaikan dalam penulisan makalah ini.

Cirebon, 7 Februari 2017


Tim Penyusun




DAFTAR ISI

LAMPIRAN













 


























DAFTAR GAMBAR



BAB I

PENDAHULUAN


   1.1    Latar Belakang Penelitian

Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok manusia selain bahan pangan dan papan (rumah tinggal), dan terbuat dari bahan tekstil dan serat yang digunakan sebagai penutup tubuh. Pakaian juga dibutuhkan untuk melindungi dan mempercantik diri. Aktifitas masyarakat yang semakin tinggi membuat pakaian yang dikenakan terkotori oleh berbagai jenis noda yang sulit dihilangkan, seperti noda lumpur, getah, coklat, saos, dan noda lainnya, hal itu membuat pemilik pakaian terkadang merasa jengkel, apalagi jika noda membandel tersebut mengenai pakaian favorit atau pakaian yang berwarna putih. Pemilik pakaian melakukan berbagai upaya untuk membersihkannya seperti mencuci pakaian berkali-kali, merendam pakaian dengan waktu yang cukup lama, merendam dengan air panas, dan hal yang paling sering dilakukan adalah mencuci noda tersebut dengan detergen.
Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan – bahan turunan minyak bumi. Pada umumnya detergen mengandung surfaktan yang berfungsi melepas kotoran pada pakaian, builder yang berfungsi meningkatkan efisiensi mencuci dari surfaktan, filler yang berfungsi menambah kuantitas busa dan adiktif yang berfungsi komersialisasi produk.


Penggunaan detergen dan bahan pembersih noda yang digunakan secara terus menerus mengakibatkan menipisnya serat pakaian, dan menguningnya pakaian yang berwarna putih. Selain itu dampak dari penggunaan detergen dapat mengakibatkan kerusakan pada ekosistem alam sekitar, untuk menghilangkan dampak tersebut, kita dapat menggunakan bahan organik seperti buah mengkudu.
Mengkudu (Morinda citrifolia) biasa disebut sebagai “ Queen of  Morinda ” karena memiliki banyak kandungan zat yang bermanfaat, salah satunya adalah tingginya kadar asam dimanfaatkan sebagai pembersih noda pada pakaian.
Hal ini lah yang melatar belakangi kami untuk mengambil judul penelitian “Pemanfaatan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Sebagai Pembersih Noda Pada Pakaian”.

1.2       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, kami merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1.   Apakah buah mengkudu dapat dimanfaatkan sebagai pembersih                                noda pada pakaian?
2.   Jenis noda apa sajakah yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu?
3.   Apakah mengkudu memiliki kelebihan daya cuci dibandingkan detergen?


1.3       Tujuan Penelitian

1.    Untuk mengetahui manfaat buah mengkudu sebagai pembersih noda pada pakaian.
2.    Untuk mengetahui noda apa saja yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu.
3.    Untuk mengetehui kelebihan daya cuci mengkudu dibandingkan detergen.

1.4       Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat dirasakan dan mempunyai kontribusi positif untuk semua pihak antara lain sebagai berikut:
1.    Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah rasa keingin tahuan bagi peneliti dalam pemanfaatan buah mengkudu (Morinda citrifolia).
2.    Madrasah
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu koleksi karya tulis ilmiah bagi madrasah dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau contoh karya tulis pemanfaatan buah mengkudu (Morinda citrifolia).
3.    Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan membantu masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam meminimalisir penggunaan produk berbahan kimia dan mampu memanfaatkan buah Mengkudu (Morinda citrifolia).


4.    Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengupayakan kehidupan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan mampu memanfaatkan berbagai bahan organik yang ada di lingkungan sekitar.

1.5       Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian bertempatan di kelas XI MIA 1 MAN 1 Cirebon, Jalan Kantor Pos No.36 Weru, Kab. Cirebon 45154, di rumah Ardiansyah, Jalan Fatahillah No. 5 Weru, Kab. Cirebon, dan di rumah Fendra Rahman Ihsanudin, Jalan Yudhistira 3 perum Taman Tukmudal Indah No. 88-08 Tukmudal, Kab. Cirebon.
Tabel 1.1 Jadwal Kegiatan Penelitian.


Okt
Nov
Des
Jan
Feb
TAHAP I
Penyerahan dan Sidang Usulan Penelitian





TAHAP II
Bimbingan BAB I





TAHAP III
Bimbingan BAB II





TAHAP IV
Bimbingan BAB III





TAHAP V
Penelitian Dan Pengamatan





TAHAP VI
Bimbingan BAB IV





TAHAP  VII
Bimbingan BAB V





TAHAP VIII
Pengesahan Pembimbing





TAHAP IX
Pengumpulan Makalah







BAB II

KERANGKA TEORITIS

     2.1 Mengkudu (Morinda citrifolia)

Mengkudu (Morinda citrofilia) merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara dan tergolong dalam famili rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini adalah Noni (Bahasa Hawai), Nono (Bahasa Tahiti), Nonu (Bahasa Tonga), Ungciokan (Bahasa Mianmar), dan Aceh (Bahasa Hindi). Di Indonesia buah mengkudu memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah diantaranya Keumeudee (Aceh), Pace dan Mengkudu (Jawa), Cangkudu (Sunda), Khoduk (Madura), dan Tibah (Bali). Pada awalnya tanaman mengkudu terpusat di Polinesia, India dan China yang kemudian menyebar ke Malaysia, Australia, Selandia Baru, Karibia,  Kanada, hingga sampai ke Indonesia, (Hariana, 2008)
Menurut Heyne beberapa spesies mengkudu yang ada di indonesia. Spesies itu adalah M.citrifolia, M.eliptica,  M.bracteaca, M.speciosa, M. Linctoria, dan M.oleifera. Dari spesies-spesies tersebut hanya ada dua yang sudah umum dimanfaatkan, yaitu Morinda citrifolia, yang dikenal sebagai mengkudu bogor dan spesies ini yang banyak dimanfaatkan untuk obat. Dan Morinda bracteaca, spesies ini banyak dibudidayakan di maluku sebagai penghasil zat warna untuk bahan pencelup benang, kain, kain batik, dan kerajinan anyaman dari daun pandan. (Kandi,2009)


Kingdom
Plantae (tumbuhan)
Sub-Kingdom
Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisio
Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio
Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Classis
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-Classis
Sympatalae
Ordo
Rubiales
Famili
Rubiaceae
Genus
Morinda
Spesies
Morinda citrifolia

Tabel 2.1 Klasifikasi Buah Mengkudu (Morinda citrifolia)




2.2       Morfologi buah mengkudu

a.    Pohon
            Ukuran tanaman tidak terlalu besar, dengan ketinggian 3-8 meter. Memiliki batang bengkok dan berdahan kaku, memiliki akar tunggang yang tertancap di dalam tanah. Kulit batang berwarna kecoklatan, beralur dangkal, tidak berbulu, anak cabangnya segi empat.
b.    Daun
            Daun tanaman berukuran besar dan tunggal. Daun bertangkai, bulat telur hingga berbentuk elips, kebanyakan daun runcing, berwarna hijau mengkilap 5-17 cm. Daun mengkudu memiliki banyak variasi seperti bentuk bulat, bertepi rata, hijau kekuningan, gundul dengan panjang 1,5 cm.
c.    Bunga
            Bunga tanaman mengkudu berbentuk bongkol dengan tangkai 1-4 cm, rapat, berbunga banyak, tumbuh di dekat batang. Bunga harum dan wangi, serta memiliki mahkota berbentuk tabung, terompet, putih dalam lehernya berambut wol, panjang tabung mencapai 1,5 cm. Benang sari berjumlah 4, tumbuh menjadi satu dengan mahkota sehingga berukuran besar.
d.    Buah
            Buah tanaman mengkudu bulat atau longjong seperti telur ayam. Permukaan buah terbagi sel polgonal (bersegi banyak) yang berbintik bintik atau berkutil. Buah awal berwarna hijau dan menjadi kekuning-kuningan ketika matang dan setelah matang buah akan menjadi lunak. Sehingga berjatuhan di bawah pohon.
e.    Biji
            Biji buah mengkudu berwarna hitam, memiliki albumen yang keras dan ruang udara yang tampak jelas (berpori-pori). Bijinya memiliki daya tumbuh yang baik walaupun sudah disimpan 6 bulan. Perkecambahan 3-9 setelah di semaikan.

2.3       Kandungan buah mengkudu (Morinda citrifolia)

Beberapa peneliti ahli biokimia menyatakan bahwa kandungan yang ada di buah mengkudu antara lain :
a.    Protein berfungsi  meningkatkan kesehatan jantung, kulit, otot, rambut, dan penghasil tenaga.
b.    Vitamin berfungsi  menstabilkan metabolisme pada tubuh.
c.     Mineral berfungsi pembentukan struktur tubuh.
d.    Proxeronine berfungsi membentuk xeronine.
e.    Xeronine berfungsi mengatur bentuk dan rigiditas protein spesifik yang terdapat dalam sel.
f.     Alizarin sebagai zat pelawan bakteri.
g.     Plant sterois berfungsi sebagai membantu fungsi monakolin k yang dapat digunakan sebagai penurun kolesterol.
h.    Lycine berfungsi sebagai membantu mengkonversi asam lemak menjadi energi, dan menurunkan kadar kolesterol jahat.
i.      Sodium berfungsi sebagai pengatur jumlah air dalam tubuh, juga memainkan peran pada bagian impuls saraf dan konsentrasi otot.
j.      Caprilyc acid (asam askorbat) berfungsi sebagai perawatan, kontrol, perbaikan dan pencegahan epilepsi, hipoalbuaminemia, gangguan pencernaan dan penyerapan lemak.
k.    Arginine berfungsi sebagai membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengatur hormon dan gula darah, serta meningkatkan kesuburan pada pria.
l.      Phenylalanine berfungsi sebagai membantu tubuh memproduksi DNA serta molekul otak seperti dopamin, norepnefrin, dan epinefrin.
m.  Magnesium berfungsi untuk menjaga otot dan saraf agar berfungsi normal, dan menjaga irama detak jantung.
n.  Terpenoid memiliki manfaat untuk mengobati diabetes, gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan kulit, dan malaria.
o.   Scolopetin berfungsi untuk menormalkan saluran pembuluh darah, pembunuh bakteri dan jamur, anti peradangan, dan anti alergi.
p.  Saponin berfungsi sebagai anti mikroba dan menimbulkan busa bila dikocok dengan air.
Related image

Gambar 2.1  Gambar Buah Mengkudu ( Morinda citrifolia )


2.4       Noda

Noda adalah satu noktah yang menyebabkan kotor pada pakaian dan berasal dari berbagai sumber, misalnya getah, debu, keringat, tinta, parfum, lumpur dan lain-lain. Setiap sumber kotoran memiliki perbedaan daya lekat dari setiap pengotor. Daya lekat ini akan mempengaruhi proses pembersihan sesuai dengan karakternya masing-masing. Jenis kotoran sangat unik dan memerlukan komposisi dan sifat kimia yang berbeda untuk mendapatkan daya cuci yang terbaik.

2.5       Zat Pembersih Noda

                                Zat-zat pembersih noda yang biasa digunakan adalah :
a.      Detergen
Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Adapun bahan pembuat detergen adalah sebagai berikut :
1.      Bahan penurun tegangan permukaan
Bahan penurun tegangan permukaan yang digunakan untuk memudahkan mengikat kotoran dan menimbulkan busa, antara lain sebagai berikut :

a.       Alkil Benzen Sulfonat (ABS) + NaOH menghasilkan Natrium Alkil Benzen Sufonat (detergen keras).
Image result for struktur kimia abs + naoh detergen

                   Gambar 2.2 gambar reaksi kimia detergen keras

B. Lauril Asam Sulfat (LAS) + NaOH menghasilkan Natrium Lauril Sulfat (detergen lunak).
Image result for struktur kimia lauril asam sulfat + naoh

Gambar 2.3 gambar reaksi kimia detergen lunak

2.      Bahan penunjang
Bahan penunjang pada detergen digunakan STPP (Sodium Tri Poli Phosphat / Natrium Tri Poli Phosphat) berfungsi menunjang kerja bahan penurun tegangan permukaan.
3.      Bahan pengisi
Bahan ini berfungsi sebagai bahan pengisi dari keseluruhan bahan baku. Pemberian bahan pengisi ini dimaksudkan untuk memperbesar atau memperbanyak volume. Keberadaan bahan ini dalam deterjen semata-mata dilihat dari aspek ekonomis. Bahan pengisi deterjen disini menggunakan sodium sulfat (Na2SO4). Bahan lain sebagai pengisi deterjen dapat mengguanakan tetra sodium pyroposphate dan sodium sitrat. Bahan ini berbentuk serbuk, berwarna putih dan mudah larut dalam air.
4.      Bahan pengikat
Sebagai bahan pengikat digunakan air, yaitu untuk mencampurkan semua bahan (media).
5.      Bahan tambahan
Sebagai bahan tambahan digunakan CMC (Carboxy Metyl Cellulose), agar kotoran yang terikat detergen tidak melekat kembali ke bahan yang dicuci.
6.       Bahan pewangi dan pewarna
Bahan pewangi dan pewarna digunakan agar detergen mempunyai warna dan aroma yang spesifik untuk membedakan dengan merk lain dan sesuai dengan warna dan aroma yang diminati konsumen. Semua bahan dicampur dan dapat dibentuk pasta (krim) atau disemprotkan lewat menara sehingga menghasilkan butiran-butiran.
b.      Sabun
Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap).
Image result for triglyceride + naoh

Gambar 2.4 gambar reaksi kimia pembuatan sabun keras





Gambar 2.5  gambar reaksi kimia pembuatan sabun lunak

Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Qisti, 2009).
Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COONa . Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion sabun (Achmad, 2004).
Sabun memiliki komposisi sebagai berikut :
1.    Surfaktan
Surfaktan adalah molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air yang bekerja menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan merupakan bahan terpenting dari sabun. Lemak dan minyak yang dipakai dalam sabun berasal dari minyak kelapa (asam lemak C12), minyak zaitun (asam lemak C16-C18), atau lemak babi. Penggunaan bahan berbeda menghasilkan sabun yang berbeda, baik secara fisik maupun kimia. Ada sabun yang cepat berbusa tetapi terasa airnya kasar dan tidak stabil, ada yang lambat berbusa tetapi lengket dan stabil, (Wasitaatmadja, 1997).
2.    Pelumas
Untuk menghindari rasa kering pada kulit diperlukan bahan yang tidak saja meminyaki kulit tetapi juga berfungsi untuk membentuk sabun yang lunak, misal: asam lemak bebas, fatty alcohol, gliserol, lanolin, parafin lunak, cocoa butter, dan minyak almond, bahan sintetik ester asam sulfosuksinat, asam lemak isotionat, asam lemak etanolamid, polimer JR, dan carbon resin (polimer akrilat). (Wasitaatmadja, 1997).
3.    Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa atau zat yang dapat menghambat, menunda, mencegah, atau memperlambat reaksi oksidasi meskipun dalam konsentrasi yang kecil. Untuk menghindari kerusakan lemak terutama bau tengik, dibutuhkan bahan penghambat oksidasi, misalnya stearil hidrazid dan butilhydroxy toluene (0,02%-0,1%). (Wasitaatmadja, 1997).
4.    Pewarna
Pewarna kebanyakan sabun toilet berwarna cokelat, hijau biru, putih, atau krem. Pewarna sabun dibolehkan sepanjang memenuhi syarat dan peraturan yang ada, pigmen yang digunakan biasanya stabil dan konsentrasinya kecil sekali (0,01- 0,5%). Titanium dioksida 0,01%. (Wasitaatmadja, 1997).
5.    Parfum
Isi sabun tidak lengkap bila tidak ditambahkan parfum sebagai pewangi. Biasanya pewangi harus berada dalam pH dan warna yang berbeda. Setiap pabrik memilih bau dan warna sabun bergantung pada permintaan pasar atau masyarakat pemakainya. Biasanya dibutuhkan wangi parfum yang tidak sama untuk membedakan produk masing-masing. (Wasitaatmadja, 1997).
6.    Pengontrol pH
Penambahan asam lemak yang lemah, dapat menurunkan pH sabun, misalnya asam sitrat. (Wasitaatmadja, 1997).
7.    Bahan tambahan khusus
Berbagai bahan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pasar, produsen, maupun segi ekonomi dapat dimasukkan ke dalam formula sabun. (Wasitaatmadja, 1997).

2.6       Prinsip kerja zat pembersih noda dalam membersihkan noda

Daya cuci detergen dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah  jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air yang digunakan. Detergen memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan.
Fungsi surfaktan yang lain adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain. Linear Alkilbenzene Sulfonat (LAS), etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan untuk pencuci kain dan pencuci piring).
Surfaktan jenis yang lain adalah Etoksilat, Etoksilat tidak berubah menjadi partikel yang bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel positif ketika terlarut dalam air.Surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut (softener). Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif, netral atau negatif bergantung pH air yang digunakan. Kedua surfaktan ini cukup kestabilan dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk pencuci alat - alat rumah tangga.
Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Zat yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.





BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1       Objek Penelitian

Objek yang  diteliti adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia) yang dijadikan sebagai pembersih noda pada pakaian.

3.2       Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif., yaitu menguji keefektifan buah mengkudu dalam membersihan noda pada pakaian. Kirk dan Miller (1986), mendefinisikan jenis kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya.

3.3       Metode Eksperimen

Dalam penelitian ini metode yang dilakukan adalah metode eksperimen. Dalam bahasa latin eksperimen diambil dari kata eks-periri yang berarti menguji coba, metode penelitian eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab  akibat. (Arikunto,2006)


3.4       Prosedur Penelitian

3.4.1  Tahap persiapan.

 a. Tahap pertama yang kami lakukan adalah menentukan judul yang akan   kami jadikan objek penelitian yakni, yang berjudul “Pemanfaatan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai Pembersih Noda Pakaian“.
 b. Tahap selanjutnya adalah penyusunan proposal penelitian.

3.4.2  Tahap pelaksanaan

Tahapan yang kami lakukan dalam  penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Menyiapkan alat dan bahan
        Alat yang digunakan dalam proses pembuatan pembersih noda dengan mengkudu (Morinda citrifolia) adalah sebagai berikut :
      a. Wadah
      b. Blender
      c. Saringan
       Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan pembersih noda   dengan mengkudu (Morinda citrifolia) adalah sebagai berikut :
a.       Mengkudu (Morinda citrifolia)
b.      Bahan pengental
c.       Bahan pewangi
2.            Proses pembuatan
            Proses pembuatan pembersih noda dari mengkudu (Morinda citrifolia) adalah sebagai berikut :
a.    Proses pertama adalah siapkan mengkudu, lalu iris,
b.    Setelah itu masukan irisan mengkudu  ke dalam blender,
c.    Saring,
d.     Berikan ekstrak pewangi,
e.    Masak dengan bahan pengental
f.     Masukkan kedalam wadah.

3.4.3  Uji coba

            Uji coba menghilangkan noda dengan cairan buah Mengkudu sebagai berikut :
a.       Siapkan cairan buah Mengkudu, Air, Ember, dan Sikat cuci,
b.      Oleskan cairan pada noda,
c.       Tuangkan cairan kedalam ember yang berisi air,
d.      Rendam pakaian yang telah diolesi cairan mengkudu ke dalam ember,
e.       Diamkan beberapa menit,
f.        Cuci seperti biasa.
4.             Pengambilan data penelitian
5.             Analisis data
6. Pelaporan



3.5       Teknik Pengumpulan Data

                   Teknik pengumpulan data yang kami lakukan adalah :
a.       Literatur
Literatur yang digunakan bersumber dari buku dan internet.
b.       Eksperimen
Eksperimen yang dilakukan adalah dengan cara melakukan percobaan terhadap buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai pembersih noda pada pakaian. Noda yang diuji adalah noda minyak, lumpur,kunyit,oli,kecap, dan saos pada kain katun dan kaos.
















BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, diperoleh data sebagai berikut :
a.       Hasil uji nilai pH buah mengkudu (Morinda citrifolia)

Tabel 4.1 Hasil uji nilai pH

Jenis
Mengkudu
Alat uji

Nilai pH
Reagen pH-1 dan pH-2
Indikator universal
Mengkudu muda
4
Mengkudu matang
5
Mengkudu tua
6



b.      Hasil uji jenis noda yang dapat dihilangkan oleh buah mengkudu (Morinda citrifolia)

Tabel 4.2 Hasil pencucian terhadap beberapa jenis noda (kain bahan katun)

Jenis
noda

Setelah dicuci

Mengkudu muda
Mengkudu matang
Mengkudu tua
Detergen
Kecap
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Kunyit
Sedikit pudar
Sedikit pudar
Sedikit pudar (Lebih bersih dibandingkan menggunakan detergen)
Sedikit pudar
Lumpur
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Pudar
Minyak
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda (tetapi terasa licin)
Oli
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Terdapat noda  (menyebar)
Saos
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda

Tabel 4.3 Hasil pencucian terhadap beberapa jenis noda (jenis kain kaos)

Jenis
noda

Setelah dicuci

Mengkudu muda
Mengkudu matang
Mengkudu tua
Detergen
Kecap
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Kunyit
Sedikit pudar
Sedikit pudar
Sedikit pudar (Lebih bersih dibandingkan detergen)
Sedikit pudar
Lumpur
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Pudar
Minyak
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Oli
Pudar
Pudar (Sama bersih dengan detergen)
Pudar (Lebih bersih dari detergen)
Pudar (Sama bersih dengan mengkudu matang)
Saos
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda
Tidak terdapat noda

4.2       Pembahasan

         Dari hasil percobaan daya cuci terhadap noda pada kain, buah mengkudu (Morinda citrifolia) dapat dijadikan sebagai pembersih noda pada pakaian. Hal ini karena buah mengkudu (Morinda citrifolia) mengandung saponin, Saponin merupakan senyawa aktif yang kuat sebagai anti mikroba dan menimbulkan busa bila dikocok dengan air, selain itu mengkudu mengandung caplyric acid (asam askorbat) memiliki nilai pH 4 sampai 6. Semua  jenis noda yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu, hasilnya bahkan lebih bersih dibandingkan dengan hasil yang dicuci dengan deergen.
Dari tabel 4.2 dan 4.3 diperoleh data bahwa Mengkudu (Morinda citrifolia) mempunyai keefektifan di atas detergen dalam menghilangkan noda. Mencuci pakaian dengan mengkudu dapat menghilangkan noda tanpa meninggalkan residu pada serat kain, sehingga kain tidak mudah rusak dan warna pada pakaian lebih cerah. Selain itu saat pencucian menggunakan mengkudu tidak menimbulkan rasa panas di tangan, sedangkan saat pencucian dengan menggunakan detergen dapat menimbulkan rasa panas di tangan.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan

1.      Buah mengkudu (Morinda citrifolia) dapat dijadikan sebagai pembersih noda pada pakaian.
2.    Jenis–jenis noda yang dapat dibersihkan oleh buah mengkudu adalah : noda lumpur, noda deodorant, pakaian yang telah menguning dan noda – noda ringan yang biasa terdapat pada pakaian.
3.    Buah mengkudu (Morinda citrifolia) lebih unggul dari detergen, karena mengkudu mampu menghilangkan noda yang sukar dihilangkan oleh detergen seperti noda lumpur, oli dan kunyit. Buah mengkudu tidak menimbulkan panas di tangan saat mencuci, ramah lingkungan, dan tidak meninggalkan residu pada serat kain.

5.2  Saran

1.      Masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.Masyarakat dapat menggunakan buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai pengganti detergen yang alami, ekonomis, dan mudah didapatkan.
2.      Masyarakat sebaiknya tidak menganggap buah mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai limbah, namun dapat memanfaatkannya menjadi pembersih noda.


DAFTAR PUSTAKA

Kandi.2009.Mengkudu yang multiguna.Bandung : Jasa grafika Indonesia.
Wikipedia. 2017. detergen, (online), ( https://id.wikipedia.org/wiki/Deterjen ,
 diakses pada 22 November 2016 )
Nur Armah,Fathullah. 2012. Penelitian eksperimen, ( online )
Rahman,Edwin. 2014 . Jenis pegotor pada kain, ( onine )
Burhanudin,Afid.2013. penelitian kuantitatif dan kualitatif, ( online )
Dahlan,Herdiansyah.2012. pengetian literatur dan jenis jenis nya, ( online )

Related image 

Komentar

  1. Gomawo yang udah liat blog saya
    Semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. Gomawo yang udah liat blog saya
    Semoga bermanfaat

    BalasHapus
  3. kak itu bahan pengental nya apa ya ?
    \

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai tepung maizena aja ka
      Tpi sesuai kan jumlah nya

      Hapus
  4. saya ingin bertanya...zat pengentalnya pake zat apa...beserta zat pewanginya memakai zat pewangi apa....dan berapa takaranya,berapa lama memasaknya....mohon jelaskan secara detail..

    BalasHapus
  5. apakah bisa memakai garam sebagai zat pengental....dan zat pewanginya juga apkh bisa memakai pewangi pakain ( royale , downi ,dll ) atau bisa memakai parfum

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Start Up dan Bisnis Online , eksistensinya di era digital

storytelling text ( malinkundang )